Rumah Duka atau Rumah yang berduka adalah “Buku” yang terbuka!!

Dalam beberapa hari ini saya mendapatkan beberapa khabar dukacita, mulai dari teman SMU saya yang tiba-tiba meninggal dunia akibat kecelakaan, kerabat yang meninggal dunia karena sakit, dan rekan kerja yang meninggal dunia tanpa sebab, padahal baru saja bertemu dengan Almarhum bulan puasa lalu. Saya berdoa, kiranya seluruh keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan.

Umur memang tidak pernah ada yang tahu, kapan kita dipanggil Tuhan untuk kembali dan mempertanggungjawabkan segala perbuatan kita selama di dunia. Ada yang meninggal di usia muda, ada pula yang meninggal di usia sangat tua. Kapan pun waktuNya, selalu bersiap sedialah.

Bagi umat muslim, jika seseorang meninggal dunia, wajib dikuburkan paling lambat 24 jam setelah menghembuskan nafas terakhir. Salah satu alasan harus segera dimakamkan, karena jenazah umat muslim tidak menggunakan formalin.

Bagi umat non muslim, jenazah akan dimandikan, didandani dan disuntikkan formalin, lalu ditaruh di dalam peti dan di tempatkan di rumah duka/ di rumah sebelum dikuburkan. Tujuan nya adalah supaya kerabat, sanak saudara dan teman sekalian dapat melihat Almarhum/Almarhumah untuk terakhir kalinya.

Teringat pesan Alm. ayah saya kepada kami, “Jika ada yang kedukaan, kalian wajib menghadiri!!” Bagi ayah saya, hadir di Rumah Duka lebih penting daripada hadir di Pernikahan seseorang. Dengan datang ke Rumah Duka kita memberikan support, dukungan baik secara materiil maupun moril kepada keluarga yang mengalami kedukaan. Dan sesungguhnya saat inilah dukungan benar-benar dibutuhkan.

Banyak hal yang dapat kita lihat di Rumah Duka. Melihat bagaimana hubungan antara keluarga dengan orang yang meninggal dunia. Dan di Rumah Duka kita dapat melihat segala sesuatu apa adanya, inilah yang saya maksud dengan “Buku” yang terbuka.

Jika orang yang meninggal dunia adalah orang yang baik hati, Rumah Duka akan ramai, orang-orang akan menangis, merasa kehilangan dan akan membicarakan segala kebaikannya sewaktu hidup.

Namun sebaliknya, jika yang meninggal dunia adalah orang yang kurang baik, Rumah duka akan sepi, orang-orang tidak peduli, dan yang hadir pun akan membicarakan keburukannya sewaktu hidup.

Akan ramai atau sepi kah Rumah Duka kita? Ramai atau sepi kita tidak tahu hingga waktuNya tiba. Namun yang terpenting sebagai manusia yang masih bernafas dan masih diberikan kesempatan hidup saat ini, berusahalah menjadi pribadi yang baik, benar dan berguna bagi keluarga, sahabat, teman, sesama bahkan negara.

Sehingga saat kita kembali nanti, “Buku” yang telah kita tuliskan bermanfaat bagi oranglain, mengharumkan keluarga dan dapat dipertanggungjawabkan disana.