Lelah

Akhir-akhir ini saya merasa sangat lelah. Lelah secara fisik, lelah pikiran. Pekerjaan sibuk sekali, seolah sulit bagi saya untuk bernafas. Bangun tidur buru-buru berangkat ke kantor, sarapan di perjalanan, menghadapi kemacetan jalan sudah menjadi makanan pagi saya. Setiba kantor sibuk rapat, diskusi, berpikir, kirim email, balas pesan. Bahkan waktu makan dan ke toilet saja rasanya terbatas. Saya bekerja keras setiap hari. Namun pekerjaan itu tak kunjung usai. Kesibukan kantor membuat saya tidak punya waktu untuk diri saya sendiri, keluarga, pasangan, persahabatan. Dan yang ada di benak saya, Seperti inikah hidup? Apa yang saya cari dari kehidupan seperti ini?

Batin saya sungguh bergejolak. Di satu sisi, terbesit, tidak apa bekerja keras selagi muda, sehingga saat tua, kita menikmati hasilnya. Namun di lain sisi, akankah saat saya berhenti, saya sadari, semua sudah terlambat, saya telah kehilangan segalanya, waktu, masa muda, keluarga, pasangan dan persahabatan.

Bolehkan saya berhenti sejenak? Egoiskah saya? Maaf saya lelah. Saya juga manusia, yang lemah. Yang berusaha menjadi kuat, walau pada akhirnya saya menyadari, manusia tetaplah manusia. Lelah!!

Ditengah kelelahan, saya berjalan luntang lantung, tak berarah, dan akhirnya menemukan sebuah buku Leo Babauta. Dia bercerita tentang seekor burung yang sedang terbang, fokus dan dengan ketajaman matanya mencari makanan. Sang burung tidak pernah berhenti terbang, diam sejenak dan berpikir, “Kenapa udara dingin? Apakah aku akan berhasil bersarang? Apa pendapat burung lain terhadapku?”

Rasa stress muncul saat kita menginginkan hal berjalan dengan cara tertentu, tertekan ketika semua tidak terjadi seperti yang kita harapkan. Bersifatlah ikhlas. menerima apapun hasilnya, maka kita akan terlepas dari tekanan.

Rasa emosi, jengkel, frustasi terhadap oranglain saat mereka tidak bersikap sesuai yang kita inginkan. Ini merusak hubungan dan kita menjadi kurang bahagia. Terimalah oranglain apa adanya, akan membuat hubungan jauh lebih baik.

Lebih perhatian terhadap hidup, agar kita tidak melewatkan momen-momen yang terjadi. Bayangkan saat menyantap hidangan lezat, namun pikiran tetap terikat kepada pekerjaan, akankah menjadi nikmat hidangan tersebut? Jangan hidup pada euforia kesuksesan atau kegagalan masa lalu atau bahkan ketakutan menghadapi masa depan. Hadirlah sepenuhnya pada momen yang sedang berlangsung dan nikmatilah momen saat ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s