My first Trip in 2018 | West Borneo

Happy New Year 2018 Everyone..

Selamat Tahun Baru 2018 Sahabatku.. 

Ini adalah tulisan pertama saya di Tahun 2018. Terima kasih Tuhan atas berkat anugrahMu kepada saya dan keluarga dalam melewati tahun 2017. Saya mengalami banyak hal baik di 2017, itu semua karena kasihMu. Terima kasih masih diberi kesehatan, pekerjaan dan berbagai kesempatan. 

Awal tahun 2018 saya mendapatkan khabar dukacita, paman saya meninggal dunia. Karena paman tersebut sangat dekat dengan saya dan keluarga, saya memutuskan untuk mengunjungi keluarganya dan melihat jenazah beliau untuk terakhir kalinya.

Beliau tinggal di salah satu kota kecil di Kalimantan. Perjalanan dari Jakarta menuju Pontianak, Kalimantan Barat ditempuh dalam waktu 1 jam 30 menit. Tiket pulang pergi Jakarta-Pontianak-Jakarta Garuda Airlines Rp. 1,500,000, Sriwijaya Air Rp. 1,100,000 atau Lion Air Rp. 900,000.

Info dari Wikipedia, Kalimantan Barat adalah provinsi keempat terluas di Indonesia setelah Papua, Kalimantan Timur dan Kalimantan Tengah. Dan dijuluki provinsi “Seribu Sungai”, selama perjalanan saya melihat banyak sekali sungai, baik sungai besar maupun sungai kecil. Saya juga melewati Sungai Kapuas Besar, Sungai Kapuas Kecil dan Sungai Landak yang merupakan anak sungai Kapuas. Sungai Kapuas merupakan sungai terpanjang di Indonesia.

Kalimantan Barat juga berbatasan darat dengan Sarawak, Malaysia. Sehingga mayoritas bahasa yang digunakan adalah Bahasa Melayu, Bahasa Indonesia dan Bahasa Tionghua (Hakka/ Tiaochiu). Suku yang menetap di Kalimantan Barat adalah suku Dayak, Melayu, Jawa, Tionghua, Madura dan Bugis.

Setiba di Pontianak, yang biasa disebut juga Kota Khatulistiwa saya masih harus menempuh perjalanan darat selama 4-5 jam. Saya pun naik Taksi menuju Pemangkat, kota kecil tempat alm. paman saya tinggal. Taksi disana tidak seperti di Jakarta, bukan Taksi Bluebird. Taksi disana adalah mobil milik pribadi atau rental, biasanya Toyota Yaris atau Toyota Avanza dengan biaya Rp. 150,000/ orang. Yaris bisa memuat 3-4 orang atau Avanza memuat 6-7 orang.

Alternatif lain adalah Mobil Travel (kalau di Jakarta seperti Xtrans atau Cipaganti), biasa nya mobil travel menggunakan Isuzu Elf yang memuat 10-12 orang. Perbedaan taksi dan mobil travel, mobil travel akan singgah di kota-kota lain, taksi langsung ke kota yang kita tuju. Jika berpergian dengan keluarga bisa rental mobil dengan biaya Rp. 600,000/mobil.

5 jam merupakan perjalanan yang panjang.. Jangan lupa sediakan cemilan dan air minum. Disana tidak seperti di Jakarta yang 500 meter pasti ada Alfamart/ Indomaret. Jalan di sana hanya 2 lajur tanpa pembatas, jalanan juga tidak rata, sehingga kita dapat merasakan “loncatan-loncatan” di dalam mobil. Selama perjalanan saya melihat sungai, sawah, laut dan rumah penduduk.

Setelah menempuh perjalanan panjang sampai juga di Pemangkat. Pemangkat terdapat di pesisir laut yang menghadap Laut China Selatan (South China Sea). Pemangkat memiliki perpaduan laut, sungai, gunung dan kota. Objek wisata di Pemangkat adalah Gunung Gajah, Pantai Sinam dan Tanjung Batu.

Puji Tuhan di trip yang singkat ini saya juga masih sempat mencicipi makanan khas Pemangkat. Tidak hanya enak, harganya juga murah. Jam mien atau mie bakso dan udang (ini versi sederhana Mie Kepiting Pontianak) harga Rp. 14,000 , Rujak Ebi Rp. 12,000 dan Es Teler Rp. 5,000. Saya jadi berpikir, susah juga ya mencari uang di Kalimantan. πŸ™‚

Saya tinggal di rumah salah satu keluarga, karena tidak ada hotel disana. Penginapan disana adalah ruko yang dibuatkan kamar-kamar seperti kamar kost di Jakarta. Jadi bagi yang akan berwisata ke Pemangkat harus maklum dengan kondisi penginapan yang ada. Atau saran saya menginap lah di Kota Singkawang, ada banyak penginapan disana. Dari Singkawang ke Pemangkat menempuh jalan darat 30km atau sekitar 1 jam perjalanan.

Di era yang modern saat ini, di Jakarta saya merasakan berbagai fasilitas dan kemudahan, namun belum dapat dinikmati oleh masyarakat di Kalimantan. Contohnya ya kemudahan transportasi dan akses infrastruktur. Dan hal yang paling penting adalah air bersih. Air disana berwarna coklat dan sedikit berpasir. Masyarakat menggunakan air untuk mandi dan mencuci. Sedangkan untuk memasak dan minum mereka menadah air hujan. Bagi masyarakat menengah ke atas, mereka membeli air bersih. Saya berharap pemerintah bisa segera memberikan solusi kepada sahabat-sahabat disana. Sehingga air bersih dapat dirasakan oleh semua masyarakat dan dengan biaya yang terjangkau.

Ya demikianlah perjalanan saya ke Pulau Kalimantan. Saya mendapatkan pelajaran berharga dalam hidup. Seringkali sebagai “anak kota” kita mengeluh tetang banyak hal setiap hari nya. Tapi sahabat di Kalimantan dengan segala keterbatasan mereka menerima keadaan dan berjuang menjalani hidup.

Saran saya sekali-sekali berwisatalah ke kota-kota kecil di Indonesia. Maka kita akan lebih bersyukur dan mendapatkan pelajaran hidup.

Happy Sunday sahabatku.. πŸ’•πŸ’•πŸ’•

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s